Apakah konsumen lebih prefer toko online atau toko fisik

Apakah konsumen lebih prefer toko online atau toko fisik?

Meski trend digital semakin merata dan sudah mulai mengakar ke daerah pedesaan, namun ternyata Google Trend mencatat ada penurunan trend orang mencari atau membicarakan mengenai online shop secara maya. Tercatat dari lima tahun terakhir, yaitu dari tahun 2015 hingga akhir 2020 meski fluktuatif, namun pada umumnya grafik dari trend online shop konstan menurun. Entah apakah itu berarti orang semakin banyak tahu tentang online shop sehingga tidak banyak yang mencari tahu, atau malah orang makin tidak tertarik dengan online shop.

Kemudahan mengakses internet bahkan oleh anak usia sangat belia sekalipun akan menciptakan pasar tersediri yang lebih luas bagi orang-orang yang ingin memanfaatkan internet sebagai toko online mereka berjualan. Produk yang dujualpun sudah sangat beragam, tidak melulu pakaian, aksesoris, dan produk-produk elektronik. Bakan untuk produk-produk harian sekalipun, sudah tersedia penjualnya secara online.

Namun sebenarnya, dibalik marak dan gampangnya untuk melakukan binsnis atau berjualan secara online, ada sebuah pertanyaan yang terlontar di kalangan penjual, apakah benar kalau sebenarnya konsumen lebih prefer buka toko online? Sebagian pelaku pemilik usaha secara online ada dari orang-orang yang ‘ganti pesawat’ dari toko secara fisik ke toko online, dan sebagian lainnya hanya ‘menambah pesawat’, dalam artian mengembangkan sayap bisnis mereka agar menjangkau lebih banyak konsumen.

Di era modren yang membuat segala sesuatunya nyaris serba digital termasuk pasar, bukan berarti pasar secara fisik menjadi sepi. Pada kenyataannya, orang-orang masih secara fisik lebih suka jika membeli barang datang langsung ke tokonya. Orang-orang meggunakan market place online hanya jika membeli barang spesifik tertentu, atau ada tujuan tertentu (diskon, bisnis punya teman, dan lan-lain), namun berjarak sangat jauh dari rumah. seorang yang berada di kalimantan yang menginginkan sebuah sepatu yang lagi diskon, dan tokonya berada jauh di pulau jawa, tentu berbelanja secara online adalah pilihan yang paling masuk akal.

Melakuakn jual-beli secara online di platform-platform digital memperpendek proses transaksi yang terkendala secara jarak. Bagi pembeli itu adalah hal yang memudahkan, dan bagi penjual, hal ini berdampak positif juga bagi toko mereka. namun bagi konsumen bisa saja keberadaan toko online tidak sama cara pandangnya dengan penjual atau pemilik toko. Sehingga mungkin menyebabkan ada toko-toko online yang sepi nyaris tidak ada pembeli.

Walau akses terhadap memiliki lapak sendiri di dunia maya itu gampang, namun sebenarnya tentang bagaimana karakter dan perilaku konsumen adalah hal dasar yang penting diketahui oleh penjual, walau ‘hanya’memiliki lapak yang tidak begitu besar secara online.

Pertama, ada konsumen yang bersifat rasional, yang hanya membeli lebutuhan berdasarkan kebutuhan. Konsumen seperti ini hanya akan membeli barang dengan mutu terjamin dengan kegunaan yang optimal, namun dengan harga yang sesuai dengan kemampuan. Konsumen seperti ini tidak akan benar-benar terhasut diskon jika barang tersebut tidak benar-benar merupakan kebutuhan yang memang harus dibeli.

Kedua, ada konsumen yang bersifat irrasional. Konsumen ini sangat cepat tertarik dengan iklan, berorientasi terhadap brand, dan membeli barang tersebut bukan karena nilai kebutuhan dan fungsi optimalnya, namun karena nilai prestise atau gengsinya.

Apakah mengetahui dan beradaptasi dengan sifat konsumen itu lantas akan membuat ‘toko online’ kita akan ramai pengunjung dan pembeli?

Tidak sesimpel itu.

Pada akhirnya, semua tergantung kembali kepada kebutuhan dan keinginan dari konsumen. Apakah ia perlu untuk melihat barang tersebut secara fisik, apakah ia akan percaya terhadap semua testimoni yang kita tampilkan sebagai review, apakah ia akan tetap membeli barang yang tidak begitu ia butuhkan karena sedang ada diskon dan promosi, semua itu kembali kepada keinginan konsumen.

Namun bagi pedagang yang kreatif, tentu mempunyai trik rahasia sendiri bagaimana mengeksploitasi keinginan dan kebutuhan konsumen sehingga mereka benghabiskan uang di toko mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *